situs Ratu Boko, foto oleh Elisabeth Hetty

Di suatu malam yang cerah ceria, 2 Juli 2010 di Bentara Budaya Bali (BBB) pada sebuah pameran foto oleh seorang fotografer jurnalistik KOMPAS terkenal, Julian Sihombing, untuk pertama kalinya saya [RA] bertemu dengan Elisabeth Hetty [EH]. Memang masih belum banyak yang tahu siapa seorang Elisabeth Hetty, tapi di Bali, perempuan ramah, murah senyum dan rendah hati ini cukup dikenal. Dan beberapa hari terakhir saya baru mendengar kabarnya karena sebuah pameran foto yang diselenggarakan Hotel Harris untuk Elisabeth Hetty selama tiga bulan.

Tentu saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. ini pertama kali saya bertemu dengannya sekaligus melihat langsung karya – karyanya berupa foto-fototentang keeksotisan Indonesia. Memang banyak fotografer dengan tema serupa, tapi sangat jarang dapat ditemui fotografer sekaligus pelukis. Bisa dibilang Elisabeth Hetty ini adalah orang kedua yang saya temui dalam hidup saya setelah paman saya sendiri, yang memahami fotografi sekaligus melukis! Berikut petikan wawancaranya:

 

RA : Apa kesibukannya sekarang?

EH : Sejak hamil aku keluar dari Bali Artemedia, terus kerja dari rumah aja. Editing buku fashion, terus sekarang lagi ngerjain pracetak untuk buku masak terbitan Gramedia Pustaka Utama.

RA : Sebetulnya cita-cita dari kecil ingin jadi apa?

EH : hmm… kalo cita-cita sih gonta-ganti. Waktu kecil  kalo ditanya orang, aku selalu jawab jadi guru. Terus pas udah SMA aku pengen banget jadi sekretaris. Jadilah aku kuliah sekretaris di Palembang. Akhirnya kesampaian jadi sekretaris redaksi di PT Gramedia Pustaka Utama selama 5 tahun. Nah saat aku jadi sekretaris itulah, aku seneng motret-motret. Trus berawal dari sekedar hobi, aku kumpulin uang untuk lengkapin peralatan fotografi. Nah pas udah sering terima order motret wedding dan motret model, aku berhenti jadi sekretaris dan memutuskan untuk serius di fotografi.  Akhirnya aku kuliah di IKJ untuk mengasah ‘sense of art’. Aku masuk jurusan seni murni-lukis. Sebenarnya aku awalnya milih DKV (Desain Komunikasi Visual) tapi dosen yang menyarankan bilang ‘garis’ ku beda. Menurut pertimbangan mereka, desain grafis bisa dipelajari kapan saja Terus aku ikutin aja saran para dosen. Eh ternyata aku menikmati juga di jurusan itu. Kata mereka sih, aku lebih cocok di seni murni, punya garis ciri khas (mungkin tekanannya atau apa) untuk jadi pelukis.

RA : Kenapa jadi lebih tertarik ke keeksotisan Indonesia yang dijadikan tema dalam dunia fotografi?

EH : Karena dari dulu aku suka ‘nature’ dan ‘ordinary people’. Lewat dua hal itu aku bisa melewati beberapa cobaan berat dalam hidup.

RA : Kota-kota di Indonesia kan banyak, lantas kenapa Bali jadi tujuan?

EH : Karena aku sudah muak di Jakarta. Kota yang terlalu ambisius buatku, hehehehe. Aku memutuskan untuk hidup sendirian (dulu) di Bali. Hmmm.. karena sebelum ke Bali, aku ngerasa kayak ada yang panggil-panggil aku, tapi aku gak tau apa. hahahaha.. Waktu itu sih aku mikirnya, mungkin rejeki. Aku bener-bener gak punya koneksi sama sekali pas ke Bali. Fokus aja, pengen mulai hidup baru, hehehehe. Pernah ke Belitung (tempat shooting Laskar Pelangi) di sana pemandangan bagus banget, tapi aku ngerasa gak ada ‘aura’.

RA : Bisa ceritakan sedikit tentang pameran fotonya di Hotel Harris? Bagaimana ceritanya hingga bisa pameran di Hotel Harris.

EH : Karena ada tawaran dari sana. Jadi mereka ada space khusus untuk pameran foto rutin. Kuratorial juga gak ada. Mereka hanya awasin dan pilih. Kalau foto-foto di pameran itu adalah foto-foto waktu aku ke Yogya, Magelang, Bali dan Sulawesi. Semua ada 18 foto..

RA : Apa ada charity dari hasil pameran ini?

EH: Gak ada, padahal aku pengen gitu tapi mereka gak ada program gitu. Dan pengennya sih pameran di BBB. Hehehe…

RA : Kalo ada charity, ingin mengkhususkan untuk siapa?

EH : Untuk anak-anak terlantar ajah..

RA : Sejauh ini, sudah ada yang “tertarik” ngga?

EH : yang tertarik sih banyak tapi belum ada yang beli. Aku amatin sih pas pameran foto dimanapun emang jarang orang beli, yang dikejar lebih ke assignment, misalnya motret untuk corporate atau apa lah..

RA : Adakah fotografer/pelukis yang menginspirasi Elisabeth Hetty dalam berkarya?

EH : Gak ada. Hahaha beneran ngga ada. Aku langsung terinpirasi sama obyek foto saat motret. Dan aku lebih suka hitam putih, karena bisa lebih luas berimajinasi. Kalau colour, warna daun misalnya, kan terbatas seperti yang tersaji di foto. Tapi kalau B/W kan bisa lebih luas. Tantangan dalam foto hitam putih adalah ketika ngeliat foto itu, pikiran kita langsung membayangkan warnanya.

RA : Setelah pameran selesai, apa target selanjutnya?

EH: Targetnya ada, jujurnya sih biar lebih eksis di Bali. Hehehe.. kalo bisa dibilang sih, lebih mengenalkan Indonesia biar kita lebih cinta Indonesia. Misal seperti di foto Candi Ratu Boko itu, diambil dengan pengambilan yang beda, kayak bukan di Indonesia, heheheh… Jadi pengen nunjukin bahwa itu sebenernya itu ada di sini.

Situs Ratu Boko (foto oleh Elisabeth Hetty)

RA : Menurut Anda, perkembangan seni baik fotografi maupun lukis di Indonesia ini seperti apa?

 

EH : hmm… menurutku sih fotografi dan lukis di Indonesia sangat terpengaruh sama perkembangan teknologi. Dalam fotografi, kalau dulu untuk motret sunrise kita bener-bener musti nunggu waktu sampe pas banget dapet sunrisenya. Tapi sekarang, karena ada photoshop jadi bergeser. Kapan aja bisa dapet foto sunrise. Asal jago photoshop. Kurang greget jadinya. Berangkat dari situ, aku lebih milih untuk tetap pake kamera analog untuk memuaskan idealisme dan pake kamera digital utk cari uang, hahaha… Kalo lukisnya, mengamati di Bali nih, ternyata banyak banget pelukis bule yang karyanya bagus-bagus banget dan mereka secara otomatis punya link di luar negeri. mereka gak perlu tenar, tapi mereka kaya dengan ‘menjual’ Bali melalui lukisan.

RA : Dan apa pelukis lokal malah tenggelam?

EH : Tenggelam sih enggak, tapi kurang ‘lincah’ melihat peluang. Waktu di Jakarta, yang aku tau di Bali banyak pelukis lokal ternyata, nah banyak juga seniman dadakan dari luar negeri yang melayani pemesanan besar-besaran keluar negeri. Di sini banyak seniman bule yang hidup mewah karena mereka kirim karyanya ke luar negeri dan mahal-mahal pula. Jadi prihatin aja dengan pelukis lokal, hehehehe… Suamiku aja, dia pinter melukis, otodidak pula, eh sekali seminggu dia kerja di tempat bule, melukis di sana dan dibayar mahal. Si bule itu punya semacam home industri gitu lah. Bikin lukisan dari mozaik kaca-kaca gitu.

RA : Dan apa yang seharusnya dilakukan pelukis lokal?

EH : hmm…. mustinya sih pelukis di Indonesia lebih bisa melihat peluang. Jadi bisa lebih cepat kaya, hahahaha…

RA: Selain dari nature dan orang-orang Indonesia yang dipotret, apa juga ingin berusaha memunculkan kritik sosialnya?

EH : hmm… kritik sosial sih gak ada, tapi kehidupan sosial ada. Lebih ke ‘menyentuh’ bukan ‘kritik’. Misalnya kesetiaan orang jawa untuk membatik meski pendapatan mereka dari membatik itu gak seberapa..

RA: Bicara tentang lukisan, aliran lukisannya termasuk apa nih?

EH : Aliran lukisanku abstraksi, abstrak tapi masih keliatan bentuknya. Yah selanjutnya bisa diliat di blogku: exogallery.wordpress.com Ada beberapa lukisanku di situ.

RA : Pertanyaan terakhir nih, adakah tips-tips khusus bagi yang ingin berkarya seperti Anda?

EH : hmmm… apa ya? Saat motret atau melukis, harus selalu pake ‘hati’. Kamera dan kuas atau alat lain cuma alat. Karya tanpa pake hati pas buat, akan terasa ‘kosong’ pas ngeliat karya itu. Misalnya, pas motret pengemis, jangan cuma dijadikan obyek. Ajak ngomong, kalo perlu duduk ikut ngemis juga, rasain suasana di situ. Trus abis motret pengemis itu, beliin dia makanan. Hehehe.. Tipsnya itu aja selalu pake hati. Pas motret pemandangan bagus, pake hati juga, biar alam itu memuculkan auranya, hehehehe… fotonya pasti lebih bagus!

 

Bagi yang berkesempatan pergi ke Bali dalam waktu dekat ini, silahkan kunjungi pameran foto Elisabeth Hetty di lobby Hotel Harris. Buruan, hanya sampai September!

Dan teruslah berkarya, Elisabeth Hetty! :-)

Interview and posted on Good News From Indonesia by Riefka Aulia

Photo source: exogallery.wordpress.com