cameron-europe_2431617b

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah*

Bulan lalu tepatnya tanggal 23 Januari 2013, Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan bahwa Inggris akan mengadakan referendum di negerinya pada tahun 2017 nanti, untuk mengetahui apakah rakyat Inggris setuju Inggris keluar dari persekutuan ekonomi Eropa atau Uni Eropa (atau EEC) atau tidak. David Cameron dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa kalau tidak ada perubahan atau reformasi yang mendasar di tubuh Uni Eropa ini.

Memang pada saat beberapa Negara anggota masyarakat Eropa kondisi ekonominya lagi terpuruk misalkan Yunani, Spanyol, Itali, Irlandia termasuk Inggris maka mulai muncul perasaan nasionalisme di Negara-negara itu yang tidak menginginkan semua aturan di Eropa di atur oleh Brussel – ibu kota Belgia sebagai markas perkumpulan masyarakat Eropa. Rakyat di masing-masing Negara Eropa mempertanyakan kewenangan yang dianggap terlalu otoriter para politisi dan birokrat masyarakat Eropa di Brussel. Misalkan saja ketika, Yunani ditawari dana talangan atau Bail Out dari Uni Eropa untuk menyelamatkan perekonomian negaranya, itu dengan syarat bahwa seluruh kebijakan anggaran negaranya harus tunduk pada aturan dan perintah dari Brussel. Pada saat ini Negara anggota Uni Eropa yang berpengaruh adalah Jerman dan Perancis.

Inggris sebagai Negara “besar” yang pernah “rules the waves” merasa tidak memiliki kekuasaan yang besar di Uni Eropa dan selalu mengecam kekuasaan Brussel.Tindakan David Cameron mengancam keluar dari keanggotaan masayarakat Eropa ini tentu mendapat kecaman para politisi Negara-negara anggota terutama Perancis dan Jerman. Beberapa politisi Inggris yang setuju dengan ancaman David Cameron mengatakan bahwa Inggris akan lebih makmur kalau keluar dari Uni Eropa. Buktinya dulu sebelum bergabung dengan masyarakat Eropa ini perekonomian Inggris meningkat dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Kalau kita lihat kebelakang sebenarnya ketidak sukaan Inggris dengan dominasi Brussel itu bukan sekarang saja. Dulu ketika Perdana Menteri Inggris di pegang “the Iron Lady” Margaret Thatcher dalam pidatonya pernah mengatakan “ And I again emphasised that we would not be prepared to have a single currency imposed upon us, nor to surrender the use of the poundsterling as our currency”. Dia tidak setuju single currency Eropa yang mendominasi mata uang Inggris.

ASEAN sebagai persekutuan Negara-negara Asia Tenggara yang dibentuk berdasarkan keinginan untuk menjaga kemakmuran kawasan, perlu hati-hati dalam menjalankan roda organisasinya. ASEAN harus belajar pada kondisi “perpecahan” di antara Negara-negara anggota masyarakat ekonomi Uni Eropa yang menginginkan independensi kedaulatan masing-masing Negara. Para pemimpin ASEAN harus menyadari bahwa dominasi satu Negara atas Negara lain di persekutuan kekeluargaan seperti ASEAN ini akan mengakibatkan perpecahan. Para petinggi ASEAN harus tetap melestarikan dan mengedepankan cara musyawarah kekeluargaan yang dikenal dengan “the ASEAN way” dalam menyelesaikan setiap perselisihan yang mungkin terjadi di antara Negara Negara anggotanya.

*Alumni University of London, dan Universitas Airlangga Surabaya, dosen STIE PERBANAS dan STIESIA Surabaya.