nanjing lu

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Cadangan devisa Negara China terus merangkak naik sejak tahun 2003, dari yang ratusan milyar dolar menjadi trilyunan dolar. Menurut estimasi sekitar 16 eokonom dunia dalam survey Bloomberg pada January yang lalu, diprediksi cadangan devisa negeri panda ini bisa menjadi 3.45 trilyun dolar. Angka yang sangat fantastik – bandingkan dengan devisa Negara kita Indonesia yang mencapai sekitar 100 milyar dolar. Dan pencapaian ekonomi China ini menyebabkan negeri ini menyalip Amerika dan Jepang sebagai Negara yang memiliki perekonomian terbesar di dunia.

 Dapat kita duga, bahwa suatu Negara yang memiliki kekayaaan yang besar seperti China akan menggunakan kekayaan itu tentu untuk kemakmuran rakyatnya, dan pada gilirannya rakyatnya yang makmur itu mampu membeli apa saja termasuk membeli atau mengambil alih perusahaan-perusahaan besar di dunia.

Kalau lima tahun yang lalu ada cerita bahwa banyak perusahaan Eropa yang bercokol di China; namun sekarang cerita itu berbalik bahwa banyak perusahaan China yang mengambil alih secara strategis perusahaan-perusahaan Eropa atau “strategically acquiring European companies”. Perusahaan-perusahaan China itu mengambil keuntungan dari melemahnya perekonomian Eropa sejak lama. Sebagai contoh Perusahaan mobil China Geely yang membeli Volvo dari perusahaan AS Ford tahun 2010 dengan harga 1,8 milyar dolar atau 1,2 milyar pound sterling. Perusahaan mobol Volvo mengalami kerugian besar dan memiliki hutang yang besar sejak tahun 2008.

Perusahaan-perusahaan China itu tidak hanya membeli perusahaan mobil, tapi juga membeli dan menguasai pelabuhan dan perusahaan minyak di daratan Eropa dan Negara-negara bekas Uni Sovyet serta di Negara-negara Afrika.

Indonesia harus banyak belajar dari perkembangan ekonomi di negeri panda ini. Pengelolaan keuangan Negara harus lah bersih dari kebocoran-kebocoran yang merugikan Negara dan rakyat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lumayan mengagumkan saat ini harus lah dijaga dengan baik, dan tidak terpengaruh dengan gejolak kejadian politik Negara (atau Jakarta) yang sifatnya jangka pendek. Sudah selayaknya kalau pemberitaan di media kita tidak hanya di dominasi oleh perpecahan sebuah partai politik, kasus korupsi dan intrik-intrik politik jangka pendek tadi saja; akan tetapi harus juga ditampilkan kemajuan pencapain semua elemen bangsa. Kalau hal ini disadari maka bukan tidak mungking Indonesia juga akan Berjaya seperti China sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Penulis adalah alumni University of London, Universitas Airlangga Surabaya dan dosen pada STIE PERBANAS dan STIESIA Surabaya.