Ibu-perkasa-1

by Akhyari Hananto

Saya tidak begitu mengikuti materi debat politik antara Barack Obama melawan Mitt Romney beberapa bulan lalu, karena dari awal saya sudah memperkirakan bahwa Obama akan menang lagi dan menjadi presiden AS. Saya justru mencermati satu hal yang tidak banyak orang memperhatikan, yakni di dalam setiap debatnya, Obama memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah saya sangka, yakni penggunaan ibu jarinya (bukan jari telunjuknya) untuk menunjuk Mitt Romney, sangat mirip dengan apa yang dilakukan banyak orang di Jawa (terutama generasi-generasi seumuran Obama), yang menganggap bahwa penggunaan telunjuk untuk menunjuk sesuatu atau seseorang (atau bahkan sekedar arah), dianggap kurang sopan, dan tergolong kasar.

Edward L Fox, seorang penulis dan jurnalis ternama berkebangsaan Inggris, ternyata juga memperhatikan jempol Obama tersebut dan kemudian menulis menulis artikel menarik dengan judul yang mentereng “No Drama, King Obama” yang menulis bahwa pembawaan Obama yang halus dan tenang menghadapi musuh-musuh politiknya disebabkan karena pengaruh Jawa-nya yang kuat.

Benarkah?

Saya tidak tahu, dan saya tidak ingin menentang atau setuju dengan pendapat Edward L Fox. Bisa jadi benar adanya, bisa jadi juga tidak. Saya hanya ingin menggarisbawahi bahwa, memang ada yang ‘istimewa’ dan luar biasa dari orang-orang Jawa ini. Tidak bermaksud mengunggulkan etnis Jawa, namun pengetahuan saya tentang orang Jawa lebih baik dibandingkan pengetahuan saya tentang etnis lain di Indonesia. Karena saya lahir, besar, dan tinggal di keluarga Jawa.

Ketika dua sebulan lalu saya pulang ke Yogyakarta, saya cukup dikejutkan oleh berita meninggalnya Mbah Amat, perempuan tua penjual pecel keliling yang sudah berjualan puluhan tahun hingga beliau tua renta. Terus terang saja, saya tidak begitu mengenal dekat beliau, ketika SD, saya selalu menyempatkan diri untuk mencoba pecelnya yang beliau jajakan di pinggir jalan dekat sekolah. Saya masih ingat, beliau sambil bersimpuh di atas tanah, melayani para pembelinya yang kebanyakan anak-anak SD.

Lalu apa istimewanya Mbah Amat ini?

Mbah Amat adalah salah satu sosok yang mewakili generasi yang lahir pada era 1910-1930-an, masa dimana Indonesia masih di bawah alam penjajahan, juga masa dimana sultan (Jogja) masih menjadi tumpuan harapan rakyat Yogyakarta, masa dimana orang yang berdiam diri di rumah dan menganggur adalah tabu, masa dimana bekerja keras tanpa mengeluh adalah sebuah keniscayaan tanpa syarat.

Di tempat lahir saya di Yogyakarta, saya masih melihat banyak dari mereka yang datang dari generasi yang sama dengan mbak Amat masih sehat dan tetap beraktifitas. Berjalan kaki tiap pagi berkilo-kilo meter hanya untuk menjual daun pisang, atau telur ayam. Atau bersepeda puluhan kilometer menjual kerupuk, berjualan jamu; atau begadang semalaman berjualan gudeg. Itu mereka lakukan selama puluhan tahun, (dan sepanjang pengetahuan saya) mereka tidak pernah mengeluh, bahkan ketika sakit mereka sedikitpun tidak mengeluh dan tetap beraktifitas. . Generasi inilah (juga generasi-generasi sebelumnya) yang melahirkan budaya dan karakter adiluhung masyarakat Jawa, Yogyakarta khususnya.

Bagi orang-orang seperti Mbah Amat, hidup adalah sebuah kewajiban, dan mengisinya dengan kesibukan tanpa lelah adalah sebuah kemuliaan. “Nrimo ing Pandum” ; menerima dengan senang hati apa saja yang Tuhan berikan, itulah motto hidup mereka dan mereka benar-benar menjalankannya.

Generasi ini memang semakin dimakan umur. Kita memang masih bisa melihat beberapa dari mereka berpakaian tradisional jawa (jarik dan kebaya jawa) menggendong tenggok, atau pergi kesawah memetik padi, atau berjualan jamu berkeliling dengan jalan kaki. Namun entah berapa lama lagi.

Saya sempat menyampaikan kekhawatirkan saya akan menghilangnya ‘generasi tiada dua’ tersebut kepada seorang budayawan asal Yogyakarta. Saya juga mengeluh mengenai makin pupusnya warisan mereka pada pembentukan karakter anak-anak muda jaman sekarang yang seolah teramat jauh bedanya. Sang budayawan menjawab bahwa memang secara fisik, mereka sudah mulai hilang dari ‘peredaran’, namun yang perlu dicamkan adalah bahwa DNA mereka tetap tertanam kuat di jiwa anak-anak muda jaman sekarang, disadari atau tidak. DNA adalah sesuatu yang tidak bisa dihilangkan, melekat selamanya.

Beliau sempat bercerita mengenai kunjungannya ke Hongkong dan bertemu dengan banyak TKW di Victoria Park. Beberapa dari mereka bercerita bahwa majikan mereka rata-rata lebih senang bekerja dengan pekerja dari Indonesia Indonesia dibandingkan dengan (maaf saya sebut saja) pekerja dari Filipina atau India. Pekerja dari Indonesia, menurut mereka dianggap lebih rajin, lebih suka bangun pagi, relijius, tidak banyak bicara ketika sedang bekerja, tidak banyak mengeluh, dan paling jarang minta naik gaji.

Mereka juga bercerita ketika mereka harus menjaga anak-anak sang majikan yang ditinggal bekerja. Kadang untuk menghibur sang anak, atau untuk membuatnya berhenti menangis, atau untuk menidurkan mereka, mereka menyanyikan kidung dan tembang Jawa seperti Tak Lelo Lelo Ledhung, Gundul-Gundul Pacul, atau Lir-ilir, dan sebagainya. Mereka mengatakan bahwa Ibu mereka pun menyanyikan lagu yang sama ketika mereka masih kecil di kampong mereka di Jawa. Tak disangka, banyak di antara anak-anak itu yang kemudian tumbuh besar dan masih mampu menghafal tembang-tembang berbahasa jawa tersebut hingga sekarang. Mereka juga kadang mengajarkan memasak dengan racikan bumbu-bumbu khas jawa yang banyak dan rumit.

Inilah DNA yang dimaksud oleh sang budayawan tersebut. Mereka tidak hilang mengikuti hilangnya generasi tua, mereka tertanam, dan akan tetap di sana. Mereka akan muncul bila benar dicari dan digali. TKW-TKW kita yang rajin, tidak mengeluh, tidak beristirahat hingga tugasnya selesai, dan loyal pada majikan, adalah sedikit dari DNA masyarakat Jawa yang tertanam kuat.

Samar-samar saya masih ingat ketika saya masih kecil. Setiap pagi, ibu saya adalah orang yang pertama kali bangun. Yang pertama kali dilakukan sebelum sholat adalah membangunkan ayah saya untuk sholat berjamaah, mengambil adik saya yang menangis dan menggendongnya, kemudian merebus air, sambil menunggu air masak, Ibu menyapu halaman dengan sapu lidi sambil tetap sambil menggendong adik saya yang tertidur kembali di gendongan. Air masak, membuatkan teh untuk ayah yang akan segera kembali dari sawah di pagi hari dan bersiap ke kantor, dan mulai membangunkan anak-anak yang lain. Kami 6 bersaudara, semuanya relatif masih kecil-kecil. Tak terbayangkan bagaimana repot dan lelahnya Ibu saya waktu itu, belum lagi kalau musim kemarau tiba, Ibu harus menimba air dari sumur desa sebelah yang belum kering, dan membawanya ke rumah dengan klenthing, wadah air yang terbuat dari tanah liat. Kadang sehari Ibu bisa bolak balik ke sumur lebih dari 10 X untuk mencukupi kebutuhan air untuk keluarganya.

Semangat dan karakter inilah yang ‘seolah-olah’ hilang dari sekitar kita. Kita seolah hidup pada masyarakat yang materialistis, serba instan, dan seolah tidak lagi terbiasa dengan kerja keras membanting tulang, untuk hasil yang tidak seberapa. Kita maunya hasilnya banyak dan besar, kerjanya tidak seberapa.

Ayah ibu dan leluhur kita adalah para pekerja keras, pantang menyerah, dan rela berkorban. Membayangkan sifat-sifat itu ada di kita semua, betapa kuat dan perkasanya bangsa ini.

Dan kita hanya perlu menggali DNA itu, DNA milik generasi yang tiada duanya.

(Sumber foto)