lukisan-ghudangan-lethok-koyor-karya-cak-min-500x375

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah*

Imam Al-Ghazali pernah mengatakan bahwa sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu. Dalam pengertian ini maka sabar bisa dibagi dalam tiga kategori yaitu pertama, orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya, karena mempunyai daya juang dan kesabaran yang tinggi atau orang yang memiliki daya tahan terhadap dorongan nafsu; suatu saat dia kalah karena besarnya dorongan nafsu itu, tapi dia bangun terus tetap bertahan dengan sabar melawan dorongan nafsu itu.

Dalam dunia bisnis orang yang berhasil itu adalah orang yang terus berusaha meskipun mengalami kegagalan. Beberapa bangsa Negara maju merasa bangga bahwa keberhasilan perusahaan-perusahaan mereka menjadi perusahaan kelas global adalah karena usaha mereka yang keras dalam melakukan inovasi-inovasi sampai mengalami keberhasilan, walaupun dalam mencapai keberhasilan itu mereka mengalami kegagalan. Menerima kegagalan atau “accepting failure” sudah menjadi budaya mereka sehingga mereka berhasil menguasai dunia.

Tentu klaim itu tidak hanya miliki Negara-negara maju tersebut, di negeri kita yang tercinta ini banyak kita jumpai karakter suku-suku di nusantara yang memiliki ketahanan mental untuk berdagang sehingga berhasil dimana-mana, misalkan suku Padang, Madura, Bugis, Jawa, Banjar dan sebagainya. Para saudagar suku-suku bangsa kita ini tidak hanya terkenal di dalam negeri tapi juga sampai ke manca Negara. Bahkan jamam dulu kala, para saudagar kita ini hanya dengan perahu bisa mencapai Negara-negara jiran untuk berdagang. Mereka ulet atau tangguh dalam menghadapi segala rintangan sehingga mereka berhasil.

Kalau kita berjalan-jalan di jalan Malioboro Jogyakarta, kita akan terheran-heran bahwa diantara banyak pera pedagang yang berjajar di pinggir jalan Malioboro termasuk jalan-jalan kecil di samping kiri dan kanan pasar Bringharjo yang terkenal itu banyak para ibu-ibu pedagang yang sepuh atau tua umurnya. Beliau-beliau ini sepertinya memiliki karakter kuat untuk tidak mengganggu anak-anaknya dengan cara berusaha atau berdagang sendiri. Sejak pagi buta diantara ibu-ibu tua ini berjalan ber kilo2 meter dengan menggendong barang-barang dagangannya yang menggunung; tidak ada rasa penat meskipun keringatnya mengucur di pipi-pipi tua renta; tidak rasa ingin di kasihani oleh orang lain yang melihatnya. Para ibu-ibu pinisepuh itu punya prinsip lebih baik berusaha dari pada menganggur dan jadi pikun.

Ibu-ibu itu ternyata tanpa disadari telah menjalani kesabaran hidup seperti yang diajarkan agama atau seperti yang di ajarkan Imam Al-Ghazali tadi yaitu sabar – bertahan menghadapi godaan nafsu – nafsu untuk malas, untuk minta dikasihani, untuk meminta-minta dsb. Ibu-ibu Jawa Joygyakarta itu adalah bagian dari ibu-ibu dari suku-suku lainnya di nusantara ini yang memiliki jiwa sabar pantang menyerah menghadapi hidup. Dan ternyata tidak hanya Negara-negara maju yang memiliki jiwa mau menerima kegagalan atau accepting failure itu dan bangkit lagi dari kegagalan untuk maju dan berhasil, tapi ibu-ibu kita yang tua renta itu juga tak kalah dengan mereka di Negara-negara maju. Dan generasi muda selayaknya pantas harus belajar dari beliau beliau ini.

*Alumni University of London, Universitas Airlangga Surabaya

Dan dosen di STIE PERBANAS dan STIESIA Surabaya