images (4)

By Akhyari Hananto

Kejadian ini terjadi di suatu pagi di ruang tunggu Bandara Ngurah Rai, Bali. Di ruang tunggu tersebut, terdapat beberapa unit TV yang sudah menyala dan menayangkan siaran TV-TV nasional. Pagi jam segitu memang waktunya berita-berita dalam negeri. Dan, seperti yang sudah saya duga, semua TV beritanya hampir seragam; perkosaan, pembunuhan, demo ricuh, pilkada ricuh, pohon tumbang, sapi lepas, kemacetan, banjir, korupsi, kebakaran dan lain-lain. Tidak ada berita yang menyejukkan, atau menggembirakan. Entah karena alasan apa pihak pengelola bandara menyalakan TV-TV itu sepagi itu, dengan tayangan-tayangan ‘horor’ seperti itu. Saya sempat melihat ada seorang anak kecil warga asing yang sedang terpana melihat siaran berita tersebut (saat manayangkan berita perkelahian antar warga), dan seketika itu saya juga melihat ibunya tergopoh-gopoh menhampiri anaknya, menutup kedua matanya sambil menggendongnya menjauh dari TV.

Inilah gambaran betapa ‘menakutkannya’ berita-berita di TV kita, bahkan untuk saya yang sudah kenyang dengan berita-berita seperti itu. Apalagi untuk para calon turis, atau calon investor dari luar negeri.

Hal yang berbeda saya rasakan ketika sampai di Changi. Saya melewati beberapa ruang tunggu, dan semua TV menyiarkan Channel NewsAsia, saluran local dengan jangkauan internasional yang dikemas dengan format dan standar internasional. Saluran ini tak hanya lagi membanggakan bagi rakyat Singapura, tapi sudah menjadi semacam referensi bagi orang-orang dari bagian dunia yang lain untuk ‘melihat’ Asia.

Benar, Channel NewsAsia sudah bukan lagi melulu dinikmati orang Singapura. Cobalah anda jalan jalan lah anda ke Thailand, Malaysia, Australia, Vietnam, Kamboja, China, Philippine, Palau, Papua New Guinea, Hongkong, atau bahkan negara yang jauh seperti Solomon Islands, hidupkan TV di hotel anda (yang ada TV satelit/kabelnya), dan anda akan menemukan Channel NewsAsia.

Stasiun TV ini belum lama dibentuk oleh MediaCorp milik pemerintah Singapore, baru tahun 2001,  tapi sudah direlay secara luas oleh banyak negara di dunia. Bahkan dalam banyak kesempatan, CNA ditempatkan sejajar dengan saluran-saluran dunia yang lain yang jauh lebih dulu besar, seperti BBC, CNN, dan Al Jazeera.

Cukup spektakuler perkembangan CNA. Saluran ini betul-betul dimulai dari bawah, konon awalnya hanya ada beberapa meja dan ruangan yang tidak terlalu besar, dan kini sudah menjelma menjadi salah satu kekuatan media Asia yang disegani.

Diakui atau tidak, dengan memiliki CNA, Singapore yang kecil mungil menjadi seolah seukuran raksasa yang kuat, dan disegani. Saluran ini tentu saja memiliki peran strategis yang luar biasa, selain memperkenalkan Singapura yang modern, bersih, maju, kaya, juga membentuk opini begitu banyak orang di berbagai belahan dunia mengenai isu apa saja. Dan mudah diduga, opini yang mengarah pada keuntungan jangka panjang Singapura dan berbagai kepentingannya.

Contohnya, ketika terjadi sidang antara KPPU (Komite Pengawas Persaingan Usaha) dengan Temasek  mengenai kepemilikan Indosat dan Telkomsel beberapa tahun lalu yang dimenangkan KPPU, seolah olah kita di Indonesia merasa menang dan masalah sudah selesai, di atas angin. Kita salah. Di luar sana, Singapore melalui CNA-nya (dan lembaga2 strategis lain) membentuk opini dunia bahwa Indonesia belum siap membuka pasar dank ran investasinya, reputasi Indonesia yang makin fragile lah, dan sebagainya. Singapore leluasa bermain dan menari-nari di luar sana, membentuk opini masyarakat di berbagai negara, betapa tidak adil-nya keputusan badan anti monopoli (KPPU) Indonesia tersebut. Dalam kasus BLBI dimana banyak koruptor yang masih ngendon di Singapura, mereka juga menyebarkan informasi ttg lemahnya penjagaan di Imigrasi, suap di Indonesia, dan sebagainya.  Dan sebaran informasi itu menjangkau jauuuuuh melewato batas negara Singapura. Sungguh, kuat sekali singapore dalam hal ini dengan pengaruh medianya. Dan itu tidak bisa kita konfrontir, karena Indonesia tidak mempunyai ‘alat ‘ serupa, yakni media seperti CNA.

Tetangga kita yang lain, Malaysia, rupanya tidak mau kalah dengan tetangga kecilnya. Kali ini pendekatannya berbeda, sedikit lebih costly.  Kalau Singapore menciptakan saluran ala BBC/CNN, Malaysia menginvasi Asia dengan acara-acara di channel-channel internasional yang sudah ada. Jangan kaget jika kita melihat berita dan promosi-promosi Malaysia lewat National Geographic, TLC, AFC, Bio, Disney Junior, History Channel, LI, Discovery Channels, dan masih banyak lagi. Tentu Malaysia keluar uang yang tidak sedikit untuk promosi besar-besaran seperti itu. Namun ini sepadan dengan hasilnya, karena lebih efektif menjaring committed viewer, dibandingkan dengan hanya memasang iklan tentang Malaysia.

Meskipun, kalau boleh jujur, Indonesia punya jauuh lebih banyak cerita untuk ditampilkan, dibandingkan Malaysia. Bayangkan saja, documenter Siti Nurhaliza masuk ke Bio Channel, sementara dari sisi keartisan maupun pengaruh, Iwan Fals jelas bukan kelasnya Siti Nurhaliza. Sebuah pertempuran kecil di Malaysia yang hampir-hampir tidak mempengaruhi pendudukan melawan Jepang, bisa masuk ke History Channel. Bandingkan dengan Pertempuran 10 November Surabaya, atau Serangan Oemoem 1 Maret, atau perjuangan rakyat Aceh yang luar biasa itu. Masih banyak lagi “kejanggalan” yang saya temukan, namun apa boleh buat, yang bisa saya lakukan hanyalah pindah channel, karena saya memahami sepenuhnya, semua adalah promosi dan branding Malaysia. Dan mereka sepertinya berhasil mengangkat nama Malaysia di kawasan Asia. Cara ini sah-sah saja, dan sebenarnya justru Indonesia perlu mempertimbangkan untuk mengikuti langkahnya.

Lalu, langkah yang mana yang sudah diambil Indonesia; apakah caranya Singapura, mendirikan saluran internasional, atau cara Malaysia, membuat program dan membayar saluran-saluran Internasional untuk menayangkannya?

Sayangnya, tidak satupun dari keduanya yang sudah dan sedang kita ikuti. Saya tidak tahu alasannya apa, namun bisa jadi karena belum ada yang terpikir ke situ, karena mungkin prospek keuntungannya kurang menjanjikan. Atau entah apa alasan lain.

Namun ada baiknya, kita semua bisa mulai berpikir bagaimana caranya agar Indonesia bisa mempunyai satu saluran internasional setidaknya seperti NHK (Jepang) atau Arirang (Korsel) yang selain aktif menyiarkan berita internasional, juga menjadi ajang promosi dan branding negara bersangkutan.

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, cukup banyak orang-orang di luar negeri yang tidak ingin Indonesia menjadi negara yang solid dan maju di berbagai bidang. Sudah tidak terhitung artikel atau blog, atau tayangan TV asing,  yang (menurut saya) meremehkan negeri tercinta ini, ada yang dengan terang-terangan menyuarakan kemerdekaan papua (dulu banyak yang menyuarakan kemerdekaan Timtim, dan berhasil), mengatakan Indonesia negara tidak toleran, terbelakang, dan sebagainya.  Sayang ooh seribu sayang, kita yang ada di dalam yang seharusnya mengkounter berita-berita seperti itu, justru tidak ragu mengolok-olok negeri sendiri dan terjebak dalam semangat serupa. Seolah-olah tidak ada sedikitpun usaha, strategi, atau sekedar keinginan dari pemerintah, atau swasta.  untuk menghadapinya . Kalaupun ada, hanyalah tulisan-tulisan optimistis yang bersifat individual (seperti yang saya lakukan) yang mungkin tak banyak orang luar sana yang membaca.

Kita akui saja, Indonesia perlu lokomotif penggerak untuk branding negeri yang luar biasa ini, dan itu adalah media.  Kita perlu menampilkan Indonesia yang dulu selalu kita banggakan, bangsa yang murah senyum, ramah, kepulauan yang indah, dan sebagainya. Memang perlu sumber daya besar, dan proyek ini sebaiknya bukan semata mencari keuntungan finansial, tapi lebih kepada proyek dengan visi jangka panjang.

tak bisa dipungkiri, salah satu kunci kejayaan Amerika Serikat adalah medianya yang sangat kuat, yang ‘ternyata’ di belakangnya berdiri Center For Strategic Influence (CSI) yang terdiri dari orang orang hebat di negeri paman sam itu. Inggris dengan BBC-nya telah seratus tahun lebih membentuk opini dunia. Dan kita bisa punya itu. Kita bisa memanfaatkan TVRI (dengan lebih dulu diformat untuk mengakomodasi standar penyiaran internasional), kita juga bisa memanfaatkan Antara. Atau yang paling keren adalah, kalau TV-TV nasional kita, mampu bersinergi secara terintegrasi menyiarkan program-program unggulannya lewat fasilitas channel yang dibentuk bersama.

Apapun caranya, kita harus segera mulai.